Dimanakah Peran Buku Braille di era Digital?

Tidak ada komentar 68 views

Seberapa pentingkah peran sebuah buku konfensional jika nyaris seluruh koleksi buku sedunia bisa didapatkan di ujung jari?
Hampir seluruh perpustakaan besar di dunia kini sudah mulai mengonlinekan koleksinya. Perpustakaan Kongress (Library of Congress) Amerika Serikat yang memiliki koleksi buku terbanyak di dunia (hampir 24 juta judul buku dalam katalognya) kini mulai mendigitalkan koleksinya. Begitupun British Library juga melakukan hal serupa.
Tak ketinggalan Indonesia pun melalui badan Perpustakaan nasional merilis perpustakaan digital yang bernama Ipusnas, ribuan koleksi buku sudah siap kita lahap. Seiring berjalannya waktu, kian banyak orang yang mencari buku di perpustakaan-perpustakaan digital. Logikanya, jika sebuah buku bisa didapatkan hanya dengan satu sentuhan jari dengan harga yang relative murah bahkan gratis, mungkin tak kan ada orang yang mau repot-repot mengulik satu demi satu buku di perpustakaan konfensional.

Ini zaman yang maju, dimana perubahan nyaris terjadi setiap hari. Satu inovasi dibalas inovasi lainnya. Begitu terus, seakan tiada akhirnya. Inovasi mendigitalkan koleksi buku di web kini berganti dengan inovasi aplikasi. Cukup pasang aplikasi perpustakaan mana pun yang kita mau, secara otomatis, koleksi baru nanti akan muncul di Gawai kita.
Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, “Jika dunia ini memiliki tangkai, aku akan menjinjingnya”.
Kini, dunia bukan hanya bisa dijingjing,namun sudah ada di setiap saku dan gengaman kita.
Berangkat dari sinilah saya berpikir, “Dimanakah peran buku konfensional di era digital?”, khususnya buku-buku Braile bagi penyandang disabilitas Netra.

Tak dapatdipungkiri, lanju modernisasi tak mungkin dapat kita hadang, karena itu sudah sebuah keniscayaan.
Betapapun majunya tekhnilogi, termasuk dalam hal ilmu pengetahuan, dengan mudahnya kita mendapat buku dalam bentuk E-book atau buku bicara, tetap saja ada beberapa hal yang tak mungkin dapat tergantikan.
Salah satu contoh, peran Al-quraan, Al-kitab, buku Matematika dan buku sejenisnya yang telah dialih hurufkan ke dalam huruf Braille, saya kira dalam kondisi tertentu perannya tak akan tergantikan dengan metode kekinian.
Bagi kita penyandang disabilitas Netra, ketika hendak membaca Al-Quraan, dengan sendirinya harus menelusuri huruf-huruf Arab dalam bentuk Braille, dengan menyingkap lembar demi lembar kertas Al-quraan Braille.
Karena, membaca jelas beda dengan mendengarkan ayat-ayat Allah (muratal) dalam bentuk suara. Meskipun pada dasarnya, apapun cara dan tekhnik kita untuk mengatahui isi dari ayat-ayat Allah, baik dengan cara melihat, mendengar, maupun membaca dengan cara meraba, insya Allah akan tetap berpahala.
Artinya, ditengah lajunya perkembangan tekhnologi, saya kira buku Braille masih akan tetap mempunyai peran dan posisi tersendiri bagi setiap penyandang disabilitas Netra.
Terlebih, Braille merupakan marwah atau identitas Ketunanetraan yang tak dapat dipisahkan lagi.

Note:
Artikel ini pernah dimuat pada Majalah Gema Braille yang diterbitkan oleh Balai Literasi Braille Indonesia “Abiyoso” Cimahi: Januari 2019.

Tag:
author
Penulis: 

Tinggalkan pesan "Dimanakah Peran Buku Braille di era Digital?"